Jumat, 13 Januari 2012
Tangan Sering Dingin, Apa Artinya?
Seiring suhu yang makin dingin, wajar saja bila tangan kita ikut dingin. Sebab, mengurangi peredaran darah secara ekstrem adalah cara tubuh menjaga kehangatan. Bila pada cuaca cerah tangan Anda tetap dingin, itu berarti sistem peredaran Anda sedang bekerja untuk mengatur kehangatan tubuh secara keseluruhan.
Namun, beberapa gejala perlu diwaspadai sebab bisa mengindikasikan adanya masalah kesehatan yang serius. Mereka antara lain adalah tangan dan kaki yang terus-menerus dingin, perubahan warna kulit, mati rasa, gatal-gatal, sakit atau melepuh, serta kulit yang menebal.
Penyakit yang bisa dikaitkan dengan tangan yang dingin
Menurut Mayo Clinic, penyakit paling umum yang bisa diasosiasikan dengan tangan yang dingin adalah anemia, penyakit Bierger, diabetes, peripheral vascular disease (PVD), penyakit Raynaud, dan scleroderma. Untuk mengetahui persis masalahnya, Anda harus bertanya ke dokter.
Buku "Body Signs" oleh Joan Liebmann-Smith dan Jacqueline Nardi Egan menunjukan, tangan dan kaki yang terus-menerus mengalami kedinginan juga bisa berarti reaksi untuk beberapa obat-obatan. Coba periksakan ke dokter.
Tangan yang dingin bisa pula disebabkan oleh radang dingin. Ketika tubuh menghadapi suhu di bawah nol derajat Celcius untuk waktu yang lama, lapisan kulit bisa membeku. Gejala itu biasanya muncul di kaki, tangan, hidung, dan kuping. Anda mungkin mengalami mati rasa atau gatal-gatal, dan kulit Anda akan tampak pucat dan putih dan sulit dipegang.
Dalam beberapa kasus, kulit itu mungkin melepuh dan menghitam karena sel-sel yang mati. Jika mengalami radang dingin, pergilah segera ke dokter atau UGD.
Menjaga agar tangan tetap hangat
Cara terbaik untuk menjaga tangan agar tetap hangat di luar ruangan adalah menggunakan sarung tangan yang tahan air. Jika Anda harus menggunakan sarung tangan biasa, gunakan dua lapis, tapi pastikan menggunakannya sedikit longgar supaya tidak menghambat peredaran darah. Di dalam ruangan sarung tangan tanpa jari bisa Anda gunakan untuk bekerja dan menjaga tangan Anda tetap hangat.
PENGETAHUAN TENTANG EKSPOR DAN IMPOR JAHE
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Jahe adalah komoditas yang tidak tergantikan. Khasiatnya sebagai penghangat tubuh memiliki keunikan yang khas yang tidak dimiliki oleh komoditas lain. Peluang pasar bagi komoditas ini sangat besar. baik di pasar lokal dengan semakin menjamurnya industri obat, makanan, dan minuman yang berbahan dasar jahe, maupun di pasar internasional dengan total impor dunia yang besar dengan kecenderungan impor yang meningkat. Peluang pasar bagi jahe Indonesia terbuka lebar di pasar dunia terutama di pasar Bangladesh, Malaysia, Singapura, dan Jepang. Negara ini menerima ekspor jahe dari Indonesia dalam jumlah yang besar. Namun, negara tersebut juga menerima ekspor dari negara lain dengan jumlah yang lebih besar, seperti dari negara Cina. Dengan melihat peluang pasar tersebut, peningkatan produksi jahe untuk memenuhi kebutuhan lokal dan ekspor akan sangat baik, dengan syarat peningkatan produksi ini harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan pasar.
Sedangkan Berdasarkan hasil analisis menggunakan Porter’s Diamond pula, faktor yang menjadi kelemahannya adalah sumberdaya modal, sumberdaya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, sumberdaya infrastruktur dan kondisi permintaan domestik.
Masalah utama ekspor jahe Indonesia adalah produksi yang tidak stabil dan mutu yang kurang baik. Untuk memperbaiki masalah ini maka strategi pengembangan yang dapat dilakukan adalah pembentukan kemitraan antara petani dengan pengusaha dan eksportir, mengadakan bimbingan, pendampingan dan pembinaan kepada msyarakat petani jahe, melakukan teknik budidaya yang tepat, dan perlakuan pemanenan dan pascapanen yang tepat.
Pasar jahe dunia dengan struktur pasar dominan yang secara langsung berakibat Indonesia tidak dapat mempengaruhi harga (price taker). Namun, dengan struktur pasar perdagangan jahe yang dominan, dengan peningkatan kualitas melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, Indonesia bisa meraih pangsa pasar yang lebih besar. Sehingga, produksi komoditas jahe dapat berfungsi sebagai sumber devisa bagi negara dan dapat meningkatan pendapatan petani.
Permintaan jahe dunia berfluktuasi juga dengan nilai impor tahun 2001 US$ 159.626.729 kemudian menjadi US$ 143.998.323 pada tahun 2002. Tahun berikutnya, nilai ini meningkat menjadi US$ 175.051.653 dan meningkat kembali pada tahun 2004 menjadi US$ 309.061.520. Tahun 2005, nilai impor jahe dunia sebesar US$ 314.061.520 kemudian menurun menjadi US$ 259.952.856 pada tahun 2006 dan menjadi US$ 289.056.258 pada tahun 2007.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Agar kita dapat mengetahui seberapa besar perkembangan impor jahe yang dilakukan di Indonesia.
2. Agar kita dapat mengetahui kebijakan-kebijakan apa saja yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi ekspor dan impor jahe.
3. Agar kita dapat mengetahui dampak dari ekspor dan impor jahe di pasar lokal.
BAB II
KEBIJAKAN-KEBIJAKAN
2.1 Peranan pemerintah
Pemerintah memegang peranan penting bagi perdagangan jahe Indonesia di pasar internasional. Peran yang dilakukan pemerintah tentunya akan menjadi peluang atau bisa juga penghambat. Di Indonesia, pihak yang berperan dalam perdagangan komoditi jahe adalah Departemen Perdagangan dan Departemen Pertanian.
2.2 Peranan kesempatan juga persaingan dan struktur pasar.
Jahe adalah komoditas yang tidak tergantikan. Khasiatnya sebagai penghangat tubuh memiliki keunikan yang khas yang tidak dimiliki oleh komoditas lain. Peluang pasar bagi komoditas ini sangat besar. baik di pasar lokal dengan semakin menjamurnya industri obat, makanan, dan minuman yang berbahan dasar jahe, maupun di pasar internasional dengan total impor dunia yang besar dengan kecenderungan impor yang meningkat. Peluang pasar bagi jahe Indonesia terbuka lebar di pasar dunia terutama di pasar Bangladesh, Malaysia, Singapura, dan Jepang. Negara ini menerima ekspor jahe dari Indonesia dalam jumlah yang besar. Namun, negara tersebut juga menerima ekspor dari negara lain dengan jumlah yang lebih besar, seperti dari negara Cina. Dengan melihat peluang pasar tersebut, peningkatan produksi jahe untuk memenuhi kebutuhan lokal dan ekspor akan sangat baik, dengan syarat peningkatan produksi ini harus memenuhi standar mutu yang ditetapkan pasar.
Sedangkan Berdasarkan hasil analisis menggunakan Porter’s Diamond pula, faktor yang menjadikelemahannya adalah sumberdaya modal, sumberdaya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, sumberdaya infrastruktur dan kondisi permintaan domestik.
Masalah utama ekspor jahe Indonesia adalah produksi yang tidak stabil dan mutu yang kurang baik. Untuk memperbaiki masalah ini maka strategi pengembangan yang dapat dilakukan adalah pembentukan kemitraan antara petani dengan pengusaha dan eksportir, mengadakan bimbingan, pendampingan dan pembinaan kepada msyarakat petani jahe, melakukan teknik budidaya yang tepat, dan perlakuan pemanenan dan pascapanen yang tepat.
Pasar jahe dunia dengan struktur pasar dominan yang secara langsung berakibat Indonesia tidak dapat mempengaruhi harga (price taker). Namun, dengan struktur pasar perdagangan jahe yang dominan, dengan peningkatan kualitas melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, Indonesia bisa meraih pangsa pasar yang lebih besar. Sehingga, produksi komoditas jahe dapat berfungsi sebagai sumber devisa bagi negara dan dapat meningkatan pendapatan petani.
Kementerian Perdagangan telah menyampaikan pemberitahuan kepada Sekretaris Jenderal ASEAN mengenai kekhawatiran industri di dalam negeri atas pelaksanaan ACFTA dan CEPT-AFTA secara penuh, dan meminta pelaksanaan perjanjian dimaksud dapat ditinjau kembali. Disamping itu, Pemerintah juga telah membentuk Tim Koordinasi yang bertugas menyelesaikan hambatan industri dan perdagangan dalam rangka memperkuat daya saing industri nasional dalam menghadapi perdagangan global. Langkah-langkah yang sudah dilakukan oleh Tim tersebut antara lain :
- Meningkatkan efektivitas pengamanan pasar dalam negeri dari penyelundupan dan pengawasan peredaran barang dalam negeri melalui peningkatan pemberlakukan sejumlah instrumen yang sesuai dengan disiplin perjanjian internasional, seperti standar mutu, HaKI dan perlindungan konsumen, serta mencegah dumping dan lain-lain.
- Meningkatkan efektivitas pengawasan terhadap penerbitan dan pemanfaatan dokumen surat keterangan asal (SKA) untuk ekspor dan impor.
- Melakukan penguatan pasar ekspor, seperti Trade Promotion Center.
- Peningkatan promosi penggunaan produk dalam negeri.
- Penanganan issue domestik lainnya, seperti pembenahan tata ruang dan pemanfaatan lahan, infrastuktur dan energi, perluasan akses pembiayaan, perbaikan pelayanan publik, dan lain-lain.
Pemerintah juga akan mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan demi kelancaran pelaksanaan pembicaraan ulang dengan pihak-pihak terkait.
BAB III
PEMBAHASAN
Struktur pasar jahe dunia dianalisis agar dapat mengetahui perilaku pengusaha jahe di pasar internasional. Analisis ini dilakukan dengan Hirschman Herfindahl Index dan Concentration Ratio empat produsen jahe terbesar dunia, yaitu Cina, Belanda, Thailand, dan India. Keunggulan komparatif jahe Indonesia akan dianalisis menggunakan Revealed Comparative Advantage dengan periode analisis tahun 2000 sampai tahun 2007. Selain itu, keunggulan kompetitif jahe Indonesia akan dianalisis dengan Porter’s Diamond. Untuk lebih jelasnya, kerangka pemikiran dalam penelitian ini dipaparkan dalam Gambar berikut ini :
Daya saing komoditi jahe Indonesia di pasar internasional dapat diketahui melalui metode RCA (Revealed Comparative Advantage). Analisis daya saing jahe dilakukan satu per satu untuk masing-masing negara yaitu Malaysia, Singapura, Jepang, dan Bangladesh. Negara tersebut dipilih berdasarkan nilai ekspor terbesar Indonesia ke empat negara tujuan ekspor jahe Indonesia. Setelah memperoleh nilai RCA negara Indonesia ke empat negara tujuan ekspor jahe terbesar Indonesia, nilai RCA digunakan untuk mengukur daya saing Indonesia ke pasar tujuan utama ekspor. Untuk keunggulan komparatif, di pasar Malaysia, Indonesia memiliki daya saing yang baik pada tahun 2000 sampai tahun 2004. Dari tahun 2005 sampai 2007, daya saing Indonesia di pasar ini lemah dengan nilai RCA yang kurang dari satu. Di pasar Singapura, Indonesia memiliki daya saing yang kuat pada tahun 2000 sampai 2002. Setelah tahun 2003 sampai 2007, Indonesia sudah tidak memiliki daya saing yang kuat di pasar ini. Di Jepang, selama tahun 2000 sampai 2007, daya saing Indonesia selalu lemah dengan nilai RCA yang selalu kurang dari satu. Sedangkan di Bangladesh, jahe Indonesia dapat diterima baik selama tahun 2000 sampai tahun 2005, kecuali tahun 2003, karena tahun ini daya saing jahe Indonesia di pasar Bangladesh menurun. Setelah tahun 2005, daya saing jahe Indonesia di pasar ini melemah dengan nilai RCA yang kurang dari satu sampai tahun 2007. Menurunnya daya saing Indonesia disebabkan oleh penurunan nilai ekspor karena menurunnya kualitas jahe Indonesia.
Para pedagang di beberapa pasar tradisional pun mulai merasa terganggu dengan membanjirnya jahe impor di pasaran karena dikhawatirkan mempengaruhi harga komoditas jahe lokal. Para pedagang mengatakan bahwa komoditas jahe impor terutama dari Negara Taiwan mulai masuk ke pasaran sejak dua bulan terakhir karena terbatasnya pasokan jahe lokal. Pasokan jahe impor ini terus membanjiri pasaran tradisional sehingga mengakibatkan harga komoditas lokal mengalami penurunan.
Harga jahe lokal, semula mampu mencapai Rp35 ribu per kilogram, akan tetapi kini turun menjadi Rp25 ribu/kg, sedangkan jahe berasal dari Negara Taiwan semula Rp20 ribu/kg turun Rp7.500/kg. Para pedagang mengatakan jika jahe impor itu terus membanjiri pasaran tradisional maka dipastikan akan menurunkan harga komoditas lokal, padahal pasokan jahe lokal kini masih sulit diperoleh. Saat ini jahe lokal sulit diperoleh di pasaran karena tidak ada pasokan. Karena itu, pedagang khawatir harga jahe lokal akan tergeser oleh jahe impor dari Taiwan.
Menurut para pedagang, ciri jahe impor dapat diketahui dari bentuk ukuran yang lebih besar jika dibanding jahe lokal, warna lebih putih, rasa kurang pedas, dan banyak mengandung air. Jahe impor tersebut, katanya, di datangkan oleh distributor dari Kabupaten Batang dan Magelang yang mampu menjual 10 kilogram jahe per hari.
Jahe (Zingiber officinale Rosc.) adalah tanaman yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia dan dunia, karena kekhasannya yang tidak dapat digantikan dengan tanaman lain. Komoditasnya memiliki peluang strategis dalam menunjang pembangunan di subsektor perkebunan untuk kesehatan dan sebagai komoditi non-tradisional. Permintaan jahe dunia berfluktuasi dengan nilai impor tahun 2001 US$ 159.626.729 kemudian menjadi US$ 143.998.323 pada tahun 2002. Tahun berikutnya, nilai ini meningkat menjadi US$ 175.051.653 dan meningkat kembali pada tahun 2004 menjadi US$ 309.061.520. Tahun 2005, nilai impor jahe dunia sebesar US$ 314.061.520 kemudian menurun menjadi US$ 259.952.856 pada tahun 2006 dan menjadi US$ 289.056.258 pada tahun 2007.
Kurva fluktuasi nilai impor jahe dunia
Sumber : UN Comtrade, 2009
Indonesia pernah menguasai pangsa pasar jahe dunia dengan nilai ekspor terbesar pada tahun 1990 sampai 1993 namun sejak tahun 1994 sampai tahun 2007 posisi ini digantikan Cina. Lima negara pengekspor jahe terbesar pada tahun 2007 adalah Cina dengan nilai ekspor US$ 153.298.869, Belanda US$ 16.178.743, Thailand dengan nilai ekspor sebesar US$ 14.890.545, India di urutan keempat dengan nilai US$ 8.951.147, dan Brazil sebesar US$ 6.436.831 sedangkan pada tahun 2009, Indonesia hanya menempati posisi ke-14 dengan nilai ekspor sebesar US$ 1.635.026. Atas dasar tersebut, Pemerintah melalui BPEN mengikutsertakan jahe dalam program pengembangan komoditas ekspor nonmigas. Dalam program pengembangan komoditas jahe tersebut,setidaknya ada tiga hal yang ingin dicapai, yaitu peningkatan produksi komoditas jahe sebagai sumber devisa, peningkatan pendapatan petani dan diversivikasi hasil jahe melalui berbagai industri pengolahan jahe.
Kondisi saat ini permintaan dunia akan obat-obatan alami yang meningkat maka permintaan akan tanaman jahe juga ikut meningkat. Dengan demikian, peluang pasar jahe juga semakin besar, sehingga untuk dapat menguasai dan memenuhi permintaan yang semakin bertambah, pengusaha jahe harus meningkatkan produksinya. Perkembangan komoditas jahe dapat dilihat dari ekspor jahe Indonesia ke luar negeri yang berfluktuasi dengan nilai ekspor yang semakin menurun. Dengan perkembangan yang terjadi, usaha Indonesia untuk menguasai pangsa pasar jahe dunia tidaklah mudah. Adanya pesaing-pesaing besar dalam perdagangan dunia pada komoditas jahe mendorong industri jahe Indonesia untuk bersaing di pasar internasional.
BAB IV
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa :
1. Ekspor dan impor produk pertanian terutama produk jahe sangat mempengaruhi kondisi pasar lokal, sehingga produk jahe lokal kalah bersaing dengan jahe impor.
2. Kualitas jahe lokal lebih unggul daripada kualitas jahe impor. Hal ini dapat dibuktikan dari rasa jahe lokal yang lebih terasa dibandingkan jahe impor.
3. Masalah utama ekspor jahe Indonesia adalah produksi yang tidak stabil dan mutu yang kurang baik. Untuk memperbaiki masalah ini maka strategi pengembangan yang dapat dilakukan adalah pembentukan kemitraan antara petani dengan pengusaha dan eksportir, mengadakan bimbingan, pendampingan dan pembinaan kepada msyarakat petani jahe, melakukan teknik budidaya yang tepat, dan perlakuan pemanenan dan pascapanen yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Saiful Alim, Achmad . 2001. Kajian Proses dan Analisis Finansial Produksi Bubuk Jahe pada Industri Skala Rumah Tangga. Surabaya : Airlangga.
Anonim.2011. Pengantar Ilmu Pertanian. http//: www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 12 Januari 2012.
Amelia, Fitri. 2009. Analisis Daya Saing Jahe Indonesia di Pasar Internasional. Bandung : Aksara.
Mindamora .S, Monika. 2000. Analisis Faktor-Faktor yang mempengaruhi Produksi dan Ekspor Jahe di Indonesia. Yogyakarta : Liberty.
Anakku Sayang
Saat kau lahir ke dunia ini
Kau begitu bersih
Kau begitu mungil dalam dekapanku
Semua orang menantimu
Waktu demi waktu
Kau pun tumbuh dengan cepat
Seperti pohon yang tumbuh setiap waktu
Kau merangkak...
Berdiri...
Berjalan...
Dan berlari...
Setiap kali ku mengingatmu
Hatiku menjadi pilu
Kini aku tak bisa lagi melihatmu
Memeluk ragamu...
Mencium keningmu...
Tuhan telah mengambilmu kembali
Kini aku hanya bisa mendoakanmu
Anakku...
Sayang...

